hermawan pujakesuma

Hermawan Putra Jawa Kelahiran Sumatera / Putra Jawa Keluyuran di Sumatera


Tinggalkan komentar

Macam macam Dioda Semikonduktor

Dioda Semikonduktor

 

Dioda adalah alat elektronika dua-terminal, yang hanya mengalirkan arus listrik dalam satu arah apabila nilai resistansinya rendah. Bahan semikonduktor yang digunakan umumnya adalah silikon atau germanium. Jika dioda dalam keadaan

konduksi, maka terdapat tegangan drop kecil pada dioda tersebut. Drop tegangan silikon 􀁼 0,7 V; Germanium 􀁼 0.4V.

 

Aplikasi Dioda

Sesuai dengan aplikasinya dioda, sering dibedakan menjadi dioda sinyal dan dioda penyearah.

(a) Penyearah setengah gelombang

(b). Penyearah Gelombang Penuh

 

a.    Dioda Zener

Dioda zener adalah diode silikon, yang mana didesain khusus untuk menghasilkan karakteristik “breakdown” mundur,. Dioda zener sering digunakan sebagai referensi tegangan.

 

b.    Dioda Schottky .

Dioda schottky mempunyai karakteristik “fast recovery”, (waktu mengembalikan yang cepat, antara konduksi ke non konduksi). Oleh karena karakteristiknya ini, maka banyak diaplikasikan pada rangkaian daya modus “saklar”. Dioda ini dapat membangkitkan drop tegangan maju kira-kira setengahnya diode silikon konvensional, dan waktu kembali balik sangat cepat.

 

c.    Optoelektronika

Optoelektronika adalah alat yang mempunyai teknologi penggabungan antara optika dan elektronika. Contoh alat optoelektronika antara lain : LED (Light Emitting Dioda), foto dioda, foto optokopler, dan sebagainya.

 

d.    L E D

LED adalah sejenis dioda, yang akan memancarkan cahaya apabila mendapat arus maju sekitar 5 􀁡 30 mA. Pada umumnya LED terbuat dari bahan gallium pospat dan arsenit pospit. Didalam aplikasinya, LED sering digunakan sebagai alat indikasi status/kondisi tertentu, tampilan “Seven-segment, dan sebagainya.

 

e.     Fotodioda

Foto dioda adalah jenis foto detektor, yaitu suatu alat optoelektronika yang dapat mengubah cahaya yang datang menjadi besaran listrik. Prinsip kerjanya apabila sejumlah cahaya mengena pada persambungan, maka dapat mengendalikan arus balik di dalam dioda. Di dalam aplikasinya, foto diode sering digunakan untuk elemen sensor/detektor cahaya.

 

f.      Fototransistor

Fototransistor adalah komponen semikonduktor optoelektronika yang sejenis dengan fotodioda. Perbedaannya adalah terletak pada penguatan arus dc. Jadi, pada fototransistor akan menghasilkan arus dc kali lebih besar dari pada fotodioda.

 

g.    Optokopler

Optokopler disebut juga optoisolator adalah alat optoelektronika yang mempunyai teknologi penggabungan dua komponen semikonduktor di dalam satu kemasan, misalnya : LED – fotodioda, LED – fototransistor dan sebagainya. Prinsip kerja optokopler adalah apabila cahaya dari LED mengena foto dioda atau foto transistor, maka akan menyebabkan timbulnya arus balik pada sisi fotodioda atau foto transistor tersebut. Arus balik inilah yang menentukan besarnya tegangan keluaran. Jadi apabila tegangan masukan berubah, maka cahaya LED berubah, dan tegangan keluaran juga berubah. Didalam aplikasinya, optokopler sering digunakan sebagai alat penyekat diantara dua-rangkaian untuk keperluan pemakaian tegangan tinggi.

 

h.     LDR

LDR (Light Dependent Resistor) adalah komponenelektronik seringdigunakansebagai transduser/elemen sensor cahaya. Prinsip kerja LDR apabila cahaya yang datang mengena jendela LDR berubah, maka nilai resistansinya akan berubah pula. LDR disebut juga sel fotokonduktip.

 

i.      S C R

SCR (Silicon Controlled Rectifier) disebut juga “thyristor”,adalah komponen elektronika tigaterminalyang keluarannya dapatdikontrol berdasarkan waktupenyulutnya. Di dalamaplikasinya, SCR seringdigunakan sebagai alat“Switching” dan pengontrol daya AC.

 

j.      TRIAC

Triac adalah pengembangan dari SCR, yang mana mempunyai karakteristik dua arah (bidirectional). Triac dapat disulut oleh kedua tegangan positip dan negatip. Aplikasinya, triac sering diguna- kan sebagai pengontrol gelombang penuh.

 

k.    DIAC

Diac adalah saklar semikonduktor dua-terminal yang sering digunakan berpasangan dengan TRIAC sebagai alat penyulut (trigger).

 

l.       Dioda biasa

 

Beroperasi seperti penjelasan di atas. Biasanya dibuat dari silikon terkotori atau yang lebih langka dari germanium. Sebelum pengembangan dioda penyearah silikon modern, digunakan kuprous oksida dan selenium, ini memberikan efisiensi yang rendah dan penurunan tegangan maju yang lebih tinggi (biasanya 1.4–1.7 V tiap pertemuan, dengan banyak pertemuan ditumpuk untuk mempertinggi ketahanan tegangan terbalik), dan memerlukan benaman bahang yang besar (kadang-kadang perpanjangan dari substrat logam dari dioda), jauh lebih besar dari dioda silikon untuk rating arus yang sama.

m.   Dioda Bandangan

Dioda yang menghantar pada arah terbalik ketika panjar mundur melebihi tegangan dadal. Secara listrik mirip dengan dioda Zener, dan kadang-kadang salah disebut sebagai dioda Zener, padahal dioda ini menghantar dengan mekanisme yang berbeda yaitu efek bandangan. Efek ini terjadi ketika medan listrik terbalik yang membentangi pertemuan p-n menyebabkan gelombang ionisasi, menyebabkan arus besar mengalir, mengingatkan pada terjadinya bandangan. Dioda bandangan didesain untuk dadal pada tegangan terbalik tertentu tanpa menjadi rusak. Perbedaan antara dioda bandangan (yang mempunyai tegangan dadal terbalik diatas 6.2 V) dan dioda Zener adalah panjang kanal yang melebihi rerata jalur bebas dari elektron, jadi ada tumbukan antara mereka. Perbedaan yang mudah dilihat adalah keduanya mempunyai koefisien suhu yang berbeda, dioda bandangan berkoefisien positif, sedangkan Zener berkoefisien negatif.

   n. Dioda Arus Tetap

 

Ini sebenarnya adalah sebuah JFET dengan gerbangnya disambungkan ke sumber, dan berfungsi seperti pembatas arus dua saluran (analog dengan Zener yang membatasi tegangan). Peranti ini mengizinkan arus untuk mengalir hingga harga tertentu, dan lalu menahan arus untuk tidak bertambah lebih lanjut.

 

o.  Diode Gunn

Dioda ini mirip dengan dioda terowongan karena dibuat dari bahan seperti GaAs atau InP yang mempunyai daerah resistansi negatif. Dengan penjar yang semestinya, domain dipol terbentuk dan bergerak melalui dioda, memungkinkan osilator gelombang mikro frekuensi tinggi dibuat

 


2 Komentar

HAKIKAT MANUSIA

              HAKIKAT MANUSIA

 

         I.            PENDAHULUAN

 

Setiap manusia yang lahir ke dunia, akan dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia seutuhnya apabila individu yang bersangkutan memahami siapa sesungguhnya manusia itu. Sangat naïf, apabila seorang pendidik atau pemimpin tidak memahami tentang hakikat manusia, karena orang orang yang  bersangkutan senantiasa berkiprah dengan manusia. Jika terjadi hal yang demikian sama artinya seorang petani yang tak tahu cara menggarap ladangnya, dan bila dilaksanakan juga pasti terjadi kerusakan, karena seorang diserahi tugas tidak  tahu cara melaksanakannya.

      II.            PEMBAHASAN

 

A.    HAKIKAT MANUSIA

1.      Terminologi

Hakikat berasal dari bahasa arab, dengan kata dasar “haq” yang berarti kenenaran yang sesungguhnya (mendasar). Apabila seseorang menerangkan atau menjelaskan sesuatu benda atau sifat, maka yang di jelaskan itu ciri ciri atau sifat yang mendasar dari benda atau objek tersebut. Contohya, bila seseorang manusia hanya mempunya sebuah kaki, tetapi masih dapat berpikir normal, maka yang bersangkutan masih dianggap sebagai manusia yan layak. Sebaliknya walaupun seorang manusia mempunya anggota badan yang lengkap tetapi tidak dapat berpikir normal, maka seseorang tidak dapat di pandang sebagai manusia yang layak, sebab ia tidak mampu bertukar pikiran dengan orang lain.

Istilah manusia juga berasal dari bahasa arab yaitu dari kata “man” yang artinya manusia, kebetulan sama juga arinya yang ada dengan bahasa inggris. Selanjutnya penggalan kata yang kedua yaitu “nasia” yang arti nya pelupa. Jadi, istilah manusia berarti orang yang sering lupa tentang aturan atau peringatan peringatan Tuhan.

2.      Pandangan Islam / Al Qur’an Tentang Hakikat Manusia

Islam memandang haikat manusia bukan berdasarkan pandangan  pribadi  atau individu orang yang memandang, akan tetapi pandangan yang di dasarkan atas ayat ayat Tuhan yang terkandung di dalam Al Qur’an atau pandangan yang di sampaikan nabi Muhammad SAW.

 

B.     EKSISTENSI DAN MARTABAT MANUSIA

Allah berfirma dalam surah Adz-Dzariyaat : 56 sebagai berikut:

 

 

 

“Dan aku tidak ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepadaku” (Q.S. Adz-Dzariyaat : 56)

Ayat diatas tersebut merupakan dalil yang berkenaan tentang keberadaan manusia di dunia. Manusia di dunia untuk mengabdi kepada Allah SWT. Bentuk pengabdiannya tersebut berupa pengakuan atas keberadaan Allah SWT, melaksanakan perintahNya serta menjauhi laranganNya. Sebagai bentuk mengakui keberadaan Allah adalah dengan mengikuti Rukun Iman dan Rukun Islam. Rukun Iman terdiri dari enam perkara, yakni percaya kepada Allah SWT, Malaikat, Nabi-nabi Allah, Kitab-kitab Allah, percaya kepada Hari Kiamat dan percaya terhadap Takdir (Qadha dan Qadar) Allah SWT. Sebagai wujud keimanan terhadap Allah SWT, Allah SWT menyatakan bahwa manusia tidak cukup hanya meyakini didalam hati dan diucapkan oleh mulut, tetapi manusia harus melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai bagian dari mengabdi kepada Allah SWT adalah menunaikan Rukun Islam, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai karcis masuk Islam, melakukan shalat, membayar zakat, melakukan puasa serta menunaikan ibadah haji. Dengan demikian dapat disimpulkan keberadaan manusia diciptakan Allah untuk menjadi manusia yang Islami (Islam yang benar). Menjadi Islam yang benar adalah dengan mengerti, memahami dan melaksanakan dalam kehidupan apa yang telah dilarangNya, dengan kata lain secara konsisten melaksanakan Rukun Iman dan Rukun Islam.

Eksistensi manusia di dunia adalah sebagai tanda kekuasaan Allah SWT terhadap hamba-hambaNya, bahwa dialah yang menciptakan, menghidupkan dan menjaga kehidupan manusia. Dengan demikian, tujuan diciptakannya manusia dalam konteks hubungan manusia dengan Allah SWT adalah dengan mengimani Allah SWT dan memikirkan ciptaanNya untuk menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Sedangkan dalam konteks hubungan manusia dengan manusia serta manusia dengan alam adalah untuk berbuat amal, yaitu perbuatan baik dan tidak melakukan kejahatan terhadap sesama manusia, serta tidak merusak alam.

 

 C.    TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI HAMBA ALLAH DAN KHALIFAH DI MUKA BUMI

a.      Fungsi Manusia

Fungsi manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah. Khaifah berarti pemimpin, wakil, pengelola dan pemelihara. Tentang fungsi manusia sebagai khalifah ini di jelaskan dalam firman allah Q.S. 2:30 yang artinya sebagai berikut sebagai berikut:

Ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “sesumgguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” meraka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”(Q.S 2:30)

Khalifah Allah berarti wakil atau pengganti yang memegang madat Allah untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang di berikan kepda manusia itu bersifat kreatif yang memungkinkan dirinya untuk mengolah dan mendayagunakan apa yang ada di muka bumi ini untuk kepentingan hidupnya. Sebagai wali Aallah, manusia dibekali dengan potensi untuk memahami dan menguasai hukum Allah yang terkandung ciptaan Nya.  Dengan pemahaman terhadap kebenrab tersebut manusia dapat menyusun konsep dan melakukan rekayasa. Pada akhrirnya akan menghasilkan sesuatu yang baru dalam perkembangan budaya manusia yang dinamis.

Segala yang dihasilkan manusia dalam konteks sebagai khalifah di landasi dengan ketundukan dan ketaatan terhadap Allah SWT. Ketundukan dan ketaatan tidak lai adalah refleksi dari fungsi penciptan sebagai khalifah yang di berikan oleh Allah dan akan di pertanggung jawabkan oleh manusia.

Fungsi manusia sebagai khalifah juga di pahami sebagai makhluk yang bertugas mengurus dan menjaga alam dengan baik agar terciptanya kehidupan yang baik bagi semua makhluk Allah. Hal ini di jelaskan oleh Allah dalam firmannya Q.S. 21:107 yang artinya sebagai berikut:

“Dan tidaklah kami mengutus  kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Manusia di dunia mempunyai tujuan untuk mengabdi kepada Allah SWT. Tujuan hidup manusia ini di jelaskan dalam firman Allah SWT. Q.S. 51:56 yang artinya sebagai berikut:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaku.”

D.    PROSES PENCIPTAAN DAN ASAL USUL MANUSIA

a. Dari Segi Fisik (Jasmani)

Asal usul manusia dalam pandangan islam tidak terlepas dari figur Adam sebagai manusia pertama. Adam adalah manusia pertama yang di ciptakan Allah di muka bumi ini dengan segala karakter kemanusiaannya. Figur adam tidak dilihat dari fisik semata, tapi yang lebih penting bahwa adam manusia sempurna yang di angkat sebagai khalifah yang di angkat di muka bumi. Dalam logika sederhana, dapat di pahami bahwa yang mengerti tentang penciptaan manusia adalah sang pencipta itu sendiri. Allah merupakan sang maha pencipta, maka Allah lah yang memahami tentang proses penciptaan manusia. Dalam Al Qur’an di jelaskan tentang penciptaan manusia, antara lain Q.S.23:12 sebagai berikut:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ

Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah”

Ayat tersebut menjelaskan tentang asal penciptaan manusia dari “sulalah min thin” (saripati tanah). Kata sulalah dapat diartikan sebagai hasil akhir dari sesuatu yang disarikan, sadangkan thin berarti tanah. Kemudian Q.S.23:13 disebutkan:

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ

“kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

Pada tahap berikutnya saripati tanah berubah menjadi nutfah, kata nutfah berarti air yang telah tercampur (hasil pembuahan spermatozoa dan ovum). Posisi nutfah ini terletak pada tempat yang kokoh yang di sebut rahim.  Penjelasan lebih rinci terdapat dalam Q.S.23:14 sebagai berikut:

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ.

“kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan danging, kemudia kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain,maka maha sucilah Allah, pencipta yang paling baik.”

b.      Dari Segi Jiwa (Rohani)

Kata Rohani di nisbatkan kepada kata Arab ruh (roh), sedangkan ruh adalah suatu komponen penting yang menentukan cirri kemanusiaan. Allah meniupkan ruh tersebut setelah selesainya proses penciptaan fisik.

Ruh merupakan getaran ilahi atau suatu sinyal ketuhanan sebagaimna rahmat, nikmat dan hikmah yang semuanya sering terasa seutuhnya, tapi sukar dipahami hakikatnya.

c.       Fitrah Manusia

Kata fitrah merupakan devirasi dari kata “fatara”, artinya ciptan, suci, dan seimbang. Manusia makhluk ciptaan Allah yang sangat berbeda dengan makhluk lainnya di alam semesta ini. Ia memiliki karakter yang khas bahkan di bandingkan dengan makhluk yang lain yang paling ‘mirip’ sekalipun. Kekhasan inilah yang menurut kitab suci menyebabkan konsekuensi konsekueansi kemanusiaan di antaranya kesadaran, tanggung jawab, dan adanya pembalasan.

 

   III.            KESIMPULAN

Hakikat berasal dari bahasa arab, yang kata dasarnya haq yang berarti kebenaran yang sesungguhnya (mendasar). manusia hidup di dunia ini sesungguhnya untuk mencari kebenaran.

Islam memandang hakikat manusia berdasarkan atas ayat ayat yang terkandung di dalam Al Qur’an atau pandangan yang di sampaikan oleh nabi Muhammad SAW.

Eksistensi manusia di dunia adalah sebagai tanda kekuasaan Allah SWT terhadap hamba-hambaNya, bahwa dialah yang menciptakan, menghidupkan dan menjaga kehidupan manusia. Dengan demikian, tujuan diciptakannya manusia dalam konteks hubungan manusia dengan Allah SWT adalah dengan mengimani Allah SWT dan memikirkan ciptaanNya untuk menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Khalifah Allah berarti wakil atau pengganti yang memegang madat Allah untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi

Asal usul manusia dalam pandangan islam tidak terlepas dari figur Adam sebagai manusia pertama. Adam adalah manusia pertama yang di ciptakan Allah di muka bumi ini dengan segala karakter kemanusiaannya.

Dari segi biologis, proses penciptaan manusia di jelaskan dalam Al Qur’an Q.S.23:14.

 

   IV.            DAFTAR PUSTAKA

Nasrul H.S. dkk, 2011, Pendidikan Agama Islam Bernuansa Soft Skills, Universitas Negeri Padang

Syarif, dkk, 2011, Pengantar Pendidikan, Universitas Negeri Padang