hermawan pujakesuma

Hermawan Putra Jawa Kelahiran Sumatera / Putra Jawa Keluyuran di Sumatera

HAKIKAT MANUSIA

2 Komentar

              HAKIKAT MANUSIA

 

         I.            PENDAHULUAN

 

Setiap manusia yang lahir ke dunia, akan dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia seutuhnya apabila individu yang bersangkutan memahami siapa sesungguhnya manusia itu. Sangat naïf, apabila seorang pendidik atau pemimpin tidak memahami tentang hakikat manusia, karena orang orang yang  bersangkutan senantiasa berkiprah dengan manusia. Jika terjadi hal yang demikian sama artinya seorang petani yang tak tahu cara menggarap ladangnya, dan bila dilaksanakan juga pasti terjadi kerusakan, karena seorang diserahi tugas tidak  tahu cara melaksanakannya.

      II.            PEMBAHASAN

 

A.    HAKIKAT MANUSIA

1.      Terminologi

Hakikat berasal dari bahasa arab, dengan kata dasar “haq” yang berarti kenenaran yang sesungguhnya (mendasar). Apabila seseorang menerangkan atau menjelaskan sesuatu benda atau sifat, maka yang di jelaskan itu ciri ciri atau sifat yang mendasar dari benda atau objek tersebut. Contohya, bila seseorang manusia hanya mempunya sebuah kaki, tetapi masih dapat berpikir normal, maka yang bersangkutan masih dianggap sebagai manusia yan layak. Sebaliknya walaupun seorang manusia mempunya anggota badan yang lengkap tetapi tidak dapat berpikir normal, maka seseorang tidak dapat di pandang sebagai manusia yang layak, sebab ia tidak mampu bertukar pikiran dengan orang lain.

Istilah manusia juga berasal dari bahasa arab yaitu dari kata “man” yang artinya manusia, kebetulan sama juga arinya yang ada dengan bahasa inggris. Selanjutnya penggalan kata yang kedua yaitu “nasia” yang arti nya pelupa. Jadi, istilah manusia berarti orang yang sering lupa tentang aturan atau peringatan peringatan Tuhan.

2.      Pandangan Islam / Al Qur’an Tentang Hakikat Manusia

Islam memandang haikat manusia bukan berdasarkan pandangan  pribadi  atau individu orang yang memandang, akan tetapi pandangan yang di dasarkan atas ayat ayat Tuhan yang terkandung di dalam Al Qur’an atau pandangan yang di sampaikan nabi Muhammad SAW.

 

B.     EKSISTENSI DAN MARTABAT MANUSIA

Allah berfirma dalam surah Adz-Dzariyaat : 56 sebagai berikut:

 

 

 

“Dan aku tidak ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi kepadaku” (Q.S. Adz-Dzariyaat : 56)

Ayat diatas tersebut merupakan dalil yang berkenaan tentang keberadaan manusia di dunia. Manusia di dunia untuk mengabdi kepada Allah SWT. Bentuk pengabdiannya tersebut berupa pengakuan atas keberadaan Allah SWT, melaksanakan perintahNya serta menjauhi laranganNya. Sebagai bentuk mengakui keberadaan Allah adalah dengan mengikuti Rukun Iman dan Rukun Islam. Rukun Iman terdiri dari enam perkara, yakni percaya kepada Allah SWT, Malaikat, Nabi-nabi Allah, Kitab-kitab Allah, percaya kepada Hari Kiamat dan percaya terhadap Takdir (Qadha dan Qadar) Allah SWT. Sebagai wujud keimanan terhadap Allah SWT, Allah SWT menyatakan bahwa manusia tidak cukup hanya meyakini didalam hati dan diucapkan oleh mulut, tetapi manusia harus melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai bagian dari mengabdi kepada Allah SWT adalah menunaikan Rukun Islam, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai karcis masuk Islam, melakukan shalat, membayar zakat, melakukan puasa serta menunaikan ibadah haji. Dengan demikian dapat disimpulkan keberadaan manusia diciptakan Allah untuk menjadi manusia yang Islami (Islam yang benar). Menjadi Islam yang benar adalah dengan mengerti, memahami dan melaksanakan dalam kehidupan apa yang telah dilarangNya, dengan kata lain secara konsisten melaksanakan Rukun Iman dan Rukun Islam.

Eksistensi manusia di dunia adalah sebagai tanda kekuasaan Allah SWT terhadap hamba-hambaNya, bahwa dialah yang menciptakan, menghidupkan dan menjaga kehidupan manusia. Dengan demikian, tujuan diciptakannya manusia dalam konteks hubungan manusia dengan Allah SWT adalah dengan mengimani Allah SWT dan memikirkan ciptaanNya untuk menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Sedangkan dalam konteks hubungan manusia dengan manusia serta manusia dengan alam adalah untuk berbuat amal, yaitu perbuatan baik dan tidak melakukan kejahatan terhadap sesama manusia, serta tidak merusak alam.

 

 C.    TANGGUNG JAWAB MANUSIA SEBAGAI HAMBA ALLAH DAN KHALIFAH DI MUKA BUMI

a.      Fungsi Manusia

Fungsi manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah. Khaifah berarti pemimpin, wakil, pengelola dan pemelihara. Tentang fungsi manusia sebagai khalifah ini di jelaskan dalam firman allah Q.S. 2:30 yang artinya sebagai berikut sebagai berikut:

Ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “sesumgguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” meraka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”(Q.S 2:30)

Khalifah Allah berarti wakil atau pengganti yang memegang madat Allah untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang di berikan kepda manusia itu bersifat kreatif yang memungkinkan dirinya untuk mengolah dan mendayagunakan apa yang ada di muka bumi ini untuk kepentingan hidupnya. Sebagai wali Aallah, manusia dibekali dengan potensi untuk memahami dan menguasai hukum Allah yang terkandung ciptaan Nya.  Dengan pemahaman terhadap kebenrab tersebut manusia dapat menyusun konsep dan melakukan rekayasa. Pada akhrirnya akan menghasilkan sesuatu yang baru dalam perkembangan budaya manusia yang dinamis.

Segala yang dihasilkan manusia dalam konteks sebagai khalifah di landasi dengan ketundukan dan ketaatan terhadap Allah SWT. Ketundukan dan ketaatan tidak lai adalah refleksi dari fungsi penciptan sebagai khalifah yang di berikan oleh Allah dan akan di pertanggung jawabkan oleh manusia.

Fungsi manusia sebagai khalifah juga di pahami sebagai makhluk yang bertugas mengurus dan menjaga alam dengan baik agar terciptanya kehidupan yang baik bagi semua makhluk Allah. Hal ini di jelaskan oleh Allah dalam firmannya Q.S. 21:107 yang artinya sebagai berikut:

“Dan tidaklah kami mengutus  kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Manusia di dunia mempunyai tujuan untuk mengabdi kepada Allah SWT. Tujuan hidup manusia ini di jelaskan dalam firman Allah SWT. Q.S. 51:56 yang artinya sebagai berikut:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaku.”

D.    PROSES PENCIPTAAN DAN ASAL USUL MANUSIA

a. Dari Segi Fisik (Jasmani)

Asal usul manusia dalam pandangan islam tidak terlepas dari figur Adam sebagai manusia pertama. Adam adalah manusia pertama yang di ciptakan Allah di muka bumi ini dengan segala karakter kemanusiaannya. Figur adam tidak dilihat dari fisik semata, tapi yang lebih penting bahwa adam manusia sempurna yang di angkat sebagai khalifah yang di angkat di muka bumi. Dalam logika sederhana, dapat di pahami bahwa yang mengerti tentang penciptaan manusia adalah sang pencipta itu sendiri. Allah merupakan sang maha pencipta, maka Allah lah yang memahami tentang proses penciptaan manusia. Dalam Al Qur’an di jelaskan tentang penciptaan manusia, antara lain Q.S.23:12 sebagai berikut:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ

Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah”

Ayat tersebut menjelaskan tentang asal penciptaan manusia dari “sulalah min thin” (saripati tanah). Kata sulalah dapat diartikan sebagai hasil akhir dari sesuatu yang disarikan, sadangkan thin berarti tanah. Kemudian Q.S.23:13 disebutkan:

ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ

“kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

Pada tahap berikutnya saripati tanah berubah menjadi nutfah, kata nutfah berarti air yang telah tercampur (hasil pembuahan spermatozoa dan ovum). Posisi nutfah ini terletak pada tempat yang kokoh yang di sebut rahim.  Penjelasan lebih rinci terdapat dalam Q.S.23:14 sebagai berikut:

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ.

“kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan danging, kemudia kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain,maka maha sucilah Allah, pencipta yang paling baik.”

b.      Dari Segi Jiwa (Rohani)

Kata Rohani di nisbatkan kepada kata Arab ruh (roh), sedangkan ruh adalah suatu komponen penting yang menentukan cirri kemanusiaan. Allah meniupkan ruh tersebut setelah selesainya proses penciptaan fisik.

Ruh merupakan getaran ilahi atau suatu sinyal ketuhanan sebagaimna rahmat, nikmat dan hikmah yang semuanya sering terasa seutuhnya, tapi sukar dipahami hakikatnya.

c.       Fitrah Manusia

Kata fitrah merupakan devirasi dari kata “fatara”, artinya ciptan, suci, dan seimbang. Manusia makhluk ciptaan Allah yang sangat berbeda dengan makhluk lainnya di alam semesta ini. Ia memiliki karakter yang khas bahkan di bandingkan dengan makhluk yang lain yang paling ‘mirip’ sekalipun. Kekhasan inilah yang menurut kitab suci menyebabkan konsekuensi konsekueansi kemanusiaan di antaranya kesadaran, tanggung jawab, dan adanya pembalasan.

 

   III.            KESIMPULAN

Hakikat berasal dari bahasa arab, yang kata dasarnya haq yang berarti kebenaran yang sesungguhnya (mendasar). manusia hidup di dunia ini sesungguhnya untuk mencari kebenaran.

Islam memandang hakikat manusia berdasarkan atas ayat ayat yang terkandung di dalam Al Qur’an atau pandangan yang di sampaikan oleh nabi Muhammad SAW.

Eksistensi manusia di dunia adalah sebagai tanda kekuasaan Allah SWT terhadap hamba-hambaNya, bahwa dialah yang menciptakan, menghidupkan dan menjaga kehidupan manusia. Dengan demikian, tujuan diciptakannya manusia dalam konteks hubungan manusia dengan Allah SWT adalah dengan mengimani Allah SWT dan memikirkan ciptaanNya untuk menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Khalifah Allah berarti wakil atau pengganti yang memegang madat Allah untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi

Asal usul manusia dalam pandangan islam tidak terlepas dari figur Adam sebagai manusia pertama. Adam adalah manusia pertama yang di ciptakan Allah di muka bumi ini dengan segala karakter kemanusiaannya.

Dari segi biologis, proses penciptaan manusia di jelaskan dalam Al Qur’an Q.S.23:14.

 

   IV.            DAFTAR PUSTAKA

Nasrul H.S. dkk, 2011, Pendidikan Agama Islam Bernuansa Soft Skills, Universitas Negeri Padang

Syarif, dkk, 2011, Pengantar Pendidikan, Universitas Negeri Padang

About these ads

Author: hermawanfirdaus

Mahasiswa Terancam Sukses. insya'allah.......

2 thoughts on “HAKIKAT MANUSIA

  1. TERUS BERKARYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.